Hari Sabtu (7/21/18) tidak ada niat untuk nonton, pinginnya di rumah saja main sama anak-anak. Tapi tiba-tiba anakku perempuan paling kecil, usia 8 tahun belum genap, minta jalan-jalan ke luar rumah. Dan dia minta jalan nonton. Awalnya sih mau nonton Hotel Transilvania ternyata, setelah cek MTIX, di Artha Gading XXI sudah penuh untuk jam 4 sorean. Akhirnya anakku milih nonton di dekat rumah KTM XXI, dan filmnya horror.... Tumbal The Ritual.Jujur ini bukan filmku banget, bukan tidak suka film nasional ya, tetapi memang tidak hobby saja nonton firm horror Indonesia. Kalau film horror dari luar asia sih banyak yang aku suka.
Tapi ya sudah, demi anak ya, aku temani dech nonton film Tumbal The Ritual ini.
Jujur saya tidak tahu siapa pemerannya maupun sutradaranya, karena yang penting nonton dulu, berharap ada pengalaman baru menonton film horor nasional dibanding film yang pernah saya tonton. Sisi ketegangan, visual akan jadi hal yang inggin aku perhatikan, untuk membuat review di blog ini.
Jadi inilah review saya tentang film Tumbal The Ritual
Lokasi Syuting
Nah ini yang jadi perhatian aku pertama. Pabrik Gula, di kota kelahiranku Solo, pabrik gula itu memang tempat yang sangar, dimana sebagian besar bangunan jaman belanda, dengan cerobong asap yang menjulang. Sejak kecil memang aku mendengar banyak cerita serem di setiap pabrik gula. Awalnya saya berpikir dimana pabrik gula di film ini ya? apa di Colomadu ya? tetapi kan sekarang di pugar jadi Restoran terkenal di Solo. Ternyata setelah browsing, lokasinya di Pabrik Gula di Tegal, tepatnya kurang tahu.
Ya, lokasi memang pas seremnya, bangunan tua, cerobong, atap seng yang berkarat, rel kereta untuk Lori berjalan (Lori itu semacam gerbong terbuka pengangkut batang tebu). Jalan menuju ke Pabrik Gula juga keren dengan pemandangan hutan kiri kanannya.
Tapi sayang, ada beberapa adegan blunder. Saat menampilkan pabrik gula, ternyata ada banyak mobil dan motor lalu lalang di gerbang luar, jadi terkesan pabrik ini sebenarnya pinggir jalan besar. Ada bebera shot saat mencari jalan keluar ada tampak orang-orang terlihat disekitar pabrik gula.
Hantu
Saat pertama kali adegan, lagu anak-anak "Aku sedih, duduk sendiri, Papa pergi, Mama pergi. Nah itu dia mereka datang, hatiku senang, hatiku riang". Imajinasiku jelas yang datang itu hantu entah siapa yang datangin anak kecil itu. Nah disinilah rasa serem muncul. Tapi kalau penonton tidak punya imajinasi ya mungkin biasa saja kali ya hehehehe.
Saat di awal, hantu-hanti disini sangat menyeramkan, dari sisi muka maupun cara kemunculannya. Lumayan tegang ketika satu persatu ada penampakan. Tapi jujur saya kurang suka dengan akhir film ini. Seremnya jadi hilang, ketika mayat bisa bangun dari kubur. Orang kesurupan dan saling kejar-kejaran. Jadi bukan film horror tetapi lebih ke thriller. Orang saling kejar untuk dibunuh. Keseraman yang berhasil di jaga sejak awal, tiba-tiba hilang begitu saja.
Itu dulu posting review singkat ttg film ini.